Ibadah haji selama ini sering dipahami sebagai perjalanan spiritual yang penuh dengan doa, kesabaran, dan penghambaan kepada Allah SWT. Namun di balik kekhusyukan tersebut, terdapat tantangan fisik yang sangat besar yang harus dihadapi setiap jemaah, terutama saat memasuki fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Karena itu, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Haji dan Umrah kembali mengingatkan seluruh jemaah untuk mulai mempersiapkan kondisi fisik sejak dini. Imbauan ini muncul setelah berbagai simulasi dan evaluasi lapangan menunjukkan bahwa jemaah berpotensi menempuh perjalanan berjalan kaki hingga puluhan kilometer selama rangkaian puncak ibadah haji berlangsung.
Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengatakan salah satu tantangan terbesar yang akan dihadapi jemaah berada pada fase Mina, khususnya saat pelaksanaan lempar jumrah di kawasan Jamarat.
"Dari tenda terjauh kita di Markaz 12 ke Jamarat itu kemungkinan 3,5 kilometer. Jadi kalau bolak-balik perhitungannya 7 kilometer per hari," ujar Dahnil saat meninjau jalur jemaah menuju Jamarat di Mina.
Menurut perhitungan Kementerian Haji dan Umrah, total jarak tempuh yang harus dilalui jemaah selama fase Mina dapat mencapai sekitar 21 kilometer bagi mereka yang mengambil skema nafar awal. Sementara bagi sebagian jemaah yang menjalani seluruh rangkaian hingga nafar tsani, jarak yang ditempuh berpotensi lebih jauh lagi.
Besarnya jarak tempuh tersebut membuat persiapan fisik menjadi faktor yang sangat penting. Dahnil menegaskan bahwa kondisi kesehatan dan stamina jemaah akan sangat menentukan kelancaran ibadah saat memasuki fase Armuzna yang dikenal sebagai puncak pelaksanaan haji.
Selain perjalanan menuju Jamarat, jemaah juga harus menjalani berbagai aktivitas fisik lainnya seperti thawaf, sa’i, perpindahan antar lokasi ibadah, hingga mobilisasi besar-besaran dari Arafah ke Muzdalifah dan Mina. Seluruh rangkaian tersebut berlangsung dalam kondisi cuaca ekstrem dengan suhu yang dapat mencapai lebih dari 40 derajat Celsius.
Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah RI, Maria Assegaff, sebelumnya juga mengingatkan agar jemaah mulai menghemat tenaga menjelang fase puncak haji. Ia meminta jemaah tidak terlalu banyak melakukan aktivitas yang menguras energi, terutama di luar hotel saat siang hari.
"Jamaah perlu mengutamakan kesehatan. Hemat tenaga, cukup istirahat, makan tepat waktu, minum air putih yang cukup, dan selalu ikuti arahan petugas," ujar Maria Assegaff.
Imbauan serupa juga datang dari berbagai pakar kesehatan haji. Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenhaj, Liliek Marhaendro Susilo, menegaskan bahwa ibadah haji pada dasarnya merupakan ibadah fisik yang membutuhkan kondisi tubuh prima.
Menurutnya, banyak calon jemaah yang terlalu fokus pada persiapan administrasi dan perlengkapan, tetapi kurang memperhatikan kesiapan fisik. Padahal, kemampuan berjalan kaki dalam waktu lama menjadi salah satu kebutuhan utama selama berada di Tanah Suci.
Data dari Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan bahkan menunjukkan bahwa total akumulasi aktivitas berjalan kaki selama ibadah haji dapat menyerupai lari maraton. Berdasarkan simulasi perjalanan ibadah, seorang jemaah diperkirakan menempuh jarak lebih dari 30 kilometer selama menjalankan berbagai rangkaian utama haji, termasuk thawaf, sa’i, perjalanan ke Mina, hingga lempar jumrah.
Dalam kajian tersebut disebutkan bahwa thawaf mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran dapat menempuh jarak sekitar 3,5 kilometer tergantung tingkat kepadatan. Sementara sa’i antara Bukit Shafa dan Marwah memiliki panjang lintasan sekitar 3,15 kilometer. Jika digabung dengan berbagai aktivitas perpindahan lainnya, total jarak tempuh menjadi sangat signifikan.
Karena itu, para calon jemaah dianjurkan mulai membiasakan diri dengan aktivitas fisik jauh sebelum keberangkatan. Bentuk latihan sederhana seperti jalan kaki rutin, jogging ringan, latihan pernapasan, serta menjaga pola makan sehat dinilai sangat membantu meningkatkan daya tahan tubuh saat berada di Tanah Suci.
Persiapan fisik juga menjadi semakin penting mengingat karakteristik jemaah Indonesia yang didominasi kelompok usia lanjut. Setiap tahun, ribuan jemaah lansia berangkat ke Arab Saudi dengan berbagai kondisi kesehatan yang membutuhkan perhatian khusus.
Untuk mengurangi risiko kelelahan berlebihan, Pemerintah Indonesia pada musim Haji 2026 kembali menerapkan skema murur bagi jemaah lanjut usia, penyandang disabilitas, serta kelompok risiko tinggi. Melalui skema tersebut, sebagian jemaah dapat melintasi Muzdalifah menggunakan bus tanpa harus turun dan bermalam lama di area tersebut sebelum melanjutkan perjalanan ke Mina.
Meski demikian, sebagian besar rangkaian ibadah tetap menuntut kemampuan fisik yang cukup baik. Karena itu petugas haji terus mengingatkan jemaah agar menjaga kondisi tubuh sejak awal keberangkatan dan tidak menunggu hingga memasuki fase Armuzna.
Selain faktor kesehatan, kesiapan fisik juga berpengaruh terhadap kekhusyukan ibadah. Banyak jemaah yang mengalami kelelahan berlebihan akhirnya kesulitan menjalankan rangkaian ibadah secara optimal karena tenaga terkuras akibat aktivitas berjalan kaki yang panjang.
Pengalaman musim-musim haji sebelumnya menunjukkan bahwa sebagian besar kasus kesehatan jemaah muncul akibat dehidrasi, kelelahan fisik, gangguan pernapasan, hingga komplikasi penyakit bawaan yang dipicu aktivitas berat dan cuaca panas ekstrem.
Karena itu, para petugas kesehatan haji menyarankan jemaah untuk mulai membangun kebiasaan hidup sehat sejak jauh hari. Aktivitas olahraga ringan secara rutin, tidur yang cukup, menjaga asupan nutrisi, mengontrol penyakit kronis, serta membiasakan diri berjalan kaki menjadi langkah sederhana yang dapat membantu memperkuat stamina menjelang keberangkatan.
Dengan jumlah jemaah Indonesia yang mencapai lebih dari 220 ribu orang pada musim Haji 2026, kesiapan fisik menjadi salah satu faktor penting yang menentukan kelancaran pelaksanaan ibadah. Pemerintah berharap seluruh jemaah dapat mempersiapkan diri secara maksimal agar mampu menjalani setiap rangkaian ibadah dengan aman, sehat, dan khusyuk hingga kembali ke Tanah Air sebagai haji yang mabrur.
